mati1

 

badan pun tak berharga sesaat di tinggal nyawa,

anak istri tercinta tak sudi lagi bersama,
secepatnya jasad dipendaaam
secepatnya jasad dipendam karna tak lagi di butuhkan,
diri yang semula dipuja kini bangkai tak berguna, ooo

dari kamar yang indah
kasur empuk tilam putih
kini harus berpindah
terkubuuuur dalam perut bumi

kalau selama ini
diri berhiaskan
emas intan permata
bermandi cahaya

tetapi kali ini didalam kuburan
gelap pekat mencekam tanpa seorang teman
terputuslah berbauran terbujurlah sndirian
diri terbungkus kain kafan

wajah dan tubuh indah yang dulu di puja puja
kini tiada lagi orang sudi menyentuhnya
jadi santapan cacing tanaaaah
jadi santapan cacing tanah sampai yang tersisa kerangka
begitulah suratan badan ke bumi dikembalikan

kebanyakan manusia telena sehingga lupa
bahwa maut kan datang menjelang

(Rhoma Irama : Sebujur bangkai)

sebuah lirik lagu yang cukup menyentuh jika kita mau meresapinya lebih dalam,

tak ayal setiap manusia banyak yang lupa akan “piala bergilir” ini, kita terlalu sibuk akan kepentingan dunia dan melupakan yang satu ini. sang maut yang tidak mengenal usia, baik yang tua, muda, anak kecil, orang dewasa, bahkan yang baru lahir pun bisa saja didatangi sang maut.

yang jadi pertanyaan “Apakah kita sudah siap menerima ‘piala bergilir’ ini?” karena mau tidak mau kita pasti akan kebagian giliran. “Apakah kita sudah punya bekal yang cukup untuk membawanya ke kehidupan yang akan datang?”

belum lama ini kita dikejutkan dengan wafatnya seorang ustadz yang kita kenal Uje (Ustadz Jefri). beliau wafat setelah mengalami kecelakaan tunggal jum’at dini hari. kejadian ini menegaskan bahwa maut datang tanpa kita duga, siap tidak siap kita pasti akan mendapatkan giliran tersebut.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak mengingat mati” (Al Hadits)

Ya Allah semoga kami tidak terlena dengan dunia yang tak pasti sehingga melupakan satu hal yang pasti. Rabbana atina fiddunia hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzabannaar…. aamiin